Awal Pertemuan
Tidak semua pertemuan diawali dengan rasa, dan tidak semua kedekatan langsung bermakna.
Kami pertama kali berjumpa di masa sekolah menengah pertama. Saat itu, kami hanyalah dua orang yang saling mengenal sekadarnya—tanpa rasa, tanpa harapan, bahkan tanpa bayangan bahwa suatu hari nanti akan berjalan dalam satu tujuan.
Waktu berlalu, kami pun berpisah dalam perjalanan hidup masing-masing. Hingga takdir mempertemukan kembali setelah masa SMA, dan sekali lagi, pertemuan itu tetap biasa saja—tidak meninggalkan kesan yang berarti.
Namun, pertemuan berikutnya di bangku perkuliahan menjadi berbeda. Bukan karena latar belakang yang sama, justru karena perbedaan yang kami bawa. Tapi di balik itu, ada satu hal yang tumbuh seiring waktu: pemahaman agama yang semakin menguat.
Dari sanalah, tanpa disadari, cara pandang mulai berubah. Yang dulunya biasa saja, kini mulai terlihat istimewa—bukan karena dunia, tapi karena adab dan akhlaknya yang terjaga.